SOLID & Petani Kecil Di Bumi “Saka Mese Nusa”

Rawan Pangan

Tiga tahun silam tepatnya tahun 2015, kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), menjadi satu diantara sekian kabupaten yang oleh  Badan Ketahanan Pangan Nasional ditetapkan sebagai kabupaten dengan label rawan pangan tertinggi.  Label ini juga terpampang dengan jelas pada peta kerawanan pangan 2015 yang menyebutkan dari 92 desa di kabupaten SBB,  terdapat sebanyak 42 desa termasuk dalam kategori  rawan pangan.

Adalah sebuah tantangan yang cukup besar. Pemerintah daerah harus secara  cepat dan tanggap  mengatasi sebuah kondisi yang urgen ini. Menyelami berbagai persoalan yang pelik, tentunya membutuhkan terobosan, intervensi dan  waktu lama  bagi pemerintah di daerah.

Sejumlah indikator menjadi catatan penting keberadaan status rawan pangan itu.  Luas lahan yang dikembangkan, produktivitas lahan, ancaman bencana, ketersediaan pangan, akses wilayah, ketersedian listrik, ketersediaan air bersih, kondisi gizi balita, pengetahuan keluarga mengenai gizi, dan tingkat kenaikan berat badan balita.

Alhamdulillah, sejak Tahun 2011 Kabupaten SBB termasuk dalam lima kabupaten se- Maluku yang mendapatkan sentuhan program ini. Mega program yang berfokus pada Peningkatan Kesejahteraan Petani Kecil (PKPK) atau Smallholder Livelihood Development Project in Eastern Indonesia (SOLID) inilah yang bisa menopang pemerintah daerah dalam menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat pedesaan.

Pemulihan Status Rawan Pangan Melalui Program SOLID

Tercatat 13 desa dari 42 desa di kabupaten SBB, masuk dalam binaan Program SOLID. Dan diantaranya berhasil dipulihkan termasuk peran   program SOLID yang dimotori oleh Manajemen SOLID Kabupaten SBB. Hasilnya,  statatus rawan pangan di 13 desa sasaran itu  sudah tereliminir dengan baik.

Secara umum tentunya keberadaan intervensi Program SOLID telah membawa sebuah dampak positif yang cukup menggembirakan.  International Fund for Agricultural Development (IFAD) dalam kegiatan  Wrap Up Meeting Supervisi IFAD 2017  di Aston Priority Simatupang Hotel and Conference Center, Jakarta, 28–30 November 2017, menegaskan adanya perubahan terhadap sejumlah kabupaten penerima manfaat Program SOLID.

Direktur IFAD Asia Pasifik Ron Hartman secara gamblang menjelaskan, hasil yang diperoleh IFAD dalam supervisi di Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara menyebutkan dari total 1.224 desa binaan, 2240 KM, 27.187 anggota KM, telah ditemukan peningkatan yang signifikan.

Terdapat Kelompok Mandiri (KM)  dengan kategori baik, meningkat dari 39% menjadi 65%. Terjadi pula peningkatan modal dari segi sosial maupun keuangan. Selain itu, ditemukan adanya ribuan anggota KM menyatakan antusias untuk tetap menjalankan Program SOLID.

Catatan IFAD

Sunggguh sebuah kabar baik. Namun IFAD juga menaruh sejumlah catatan penting yang harus diperhatian pemerintah daerah dimasa mendatang, Antaranya : 1). Keberlanjutan KM setelah Program SOLID berakhir, 2). Penurunan jumlah anggota KM, 3). Keberlangsungan proses simpanan/tabungan, apakah terus berlangsung setelah Program SOLID berakhir. Dan  4). Sinergitas antara komponen produksi pertanian,   pemasaran dan komponen rantai nilai komoditas perkebunan.

Menyimak beberapa catatan di atas, tentunya  di Kabupaten SBB  masih memerlukan gebrakan intervensi yang cukup maksimal. Dengan luas wilayah Kabupaten SBB mencapai 85.953,40 km2, luas daratan mencapai 6.948,40 Km2 (8,08%), tentunya keunggulan dan potensi alam yang berlimpah, tidak serta merta  menjadi barometer peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Upaya pendampingan untuk memotivasi masyarakat petani adalah hal yang mutlak dilakukan, agar dapat mengoptimalkan sumber daya alam. Tuntutan untuk memajukan petani kecil di SBB,  perlahan mulai terpenuhi seiring dengan hadirnya program SOLID di SBB pada tahun 2011.

Sebanyak 22 desa binaan, di 9 kecamatan,  menjadi fokus pendampingan dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani kecil. Dengan rincian KM dan anggota KM yang masih aktif sampai dengan periode akhir tahun 2017 adalah, 57 KMW dengan jumlah anggota  727 Kepala Keluarga (KK), 58 KMP dengan jumlah anggota 732 KK, dan 105 KMC denganjumlah 648 KK Wanita dan 545 KK Pria.

Hasil intervensi yang dilakukan Manajemen SOLID Kabupaten SBB bersama LSM, telah banyak merubah pola pikir dan perilaku petani kecil. Kini banyak catatan perubahan yang bisa dilihat sebagai bentuk kemajuan karena adanya intervensi program SOLID di SBB.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*