SOLID & Petani Kecil Di Bumi “Saka Mese Nusa”

Tercatat persentase perubahan yang ditorehkan dari komponen pemberdayaan masyarakat dan gender di Kabupaten SBB, telah mencapai angka persentase di kisaran 55%.  Meski angka yang diperoleh belum sebanding dengan apa yang diharapkan, namun perubahan ke arah yang lebih baik terus terjadi.

Potensi Pengembangan Keuangan

Potensi pengembangan keuangan KM di 22 desa binaan program SOLID, pada periode Juli hingga September 2017, telah  menggambarkan  dana umum KM yang meliputi kas keuangan KM, dana pinjamkan (RF dan MF) tahun 2016, dan saldo di rekening KM, terlihat adanya peningkatan. Jumlah pengembalian pinjaman RF oleh anggota KM pada 22 desa telah mencapai angka persentase 31% dari jumlah 22 desa binaan yang tersebar di SBB, dengan nominal Rp1,389,093,750.

Peningkatan ini terjadi di Bulan Agustus 2017 menjadi 34% dengan nominal Rp1,507,362,750 atau terjadi peningkatan sebesar 3%. Pada periode Agustus 2017 ke September  2017 meningkat menjadi 34% dengan nominal sebesar Rp1,527,112,750 atau meningkat sebesar 1%. Terjadinya peningkatan ini, menunjukkan berkembangnya kesadaran anggota KM pada 22 desa sasaran SOLID di SBB.

Dari 22 desa binaan Program SOLID, dapat dipastikan sebanyak 70 persen merupakan desa-desa yang mengembangkan komoditi unggulan tanaman perkebunan.  Sebanyak 20 persen merupakan desa binaan yang mengembangkan komoditi tanaman pangan dan 10 persen sisanya fokus pada pengembangan tanaman hortikultura.

Sedangkan untuk komoditi tanaman pangan seperti jagung, perkembangan pemasarannya sudah menunjukkan kondisi cukup baik. Beberapa desa binaan yang fokus pada pengembangan jagung dengan varietas hibrida, sudah menyalurkan hasilnya kepada pihak ketiga melalui peran federasi. Untuk komoditi tanaman perkebunan, yang lebih menonjol adalah komoditi kelapa yang dikembangkan oleh beberapa desa binaan program SOLID di SBB. Sejumlah produk turunan yang dihasilkan oleh petani binaan adalah berupa kopra, minyak Virgin Coconut Oil (VCO), dan berbagai hasil olahan lainnya berupa sapu, keset kaki dan kecap.

Hasil olahan ini dipasarkan ke sejumlah tempat di SBB, selebihnya telah menembus pasar kota Masohi Maluku Tengah dan Kota Ambon, misalnya minyak VCO. Hal yang sama juga terjadi di Desa Kasie Kecamatan Taniwel. Di desa binaan ini, dikembangkan pengolahan produk turunan kelapa, berupa kecap, keset kaki dan bantal guling dari sabut kelapa, arang tempurung dan sapu. Selain kelapa, komoditi perkebunan lainnya yang dikembangkan adalah sagu yang dihasilkan oleh kelompok binaan di Desa Luhu Kecamatan Huamual. Di Desa Buano dan Waisala upaya serupa juga dilakukan untuk pengolahan minyak kayu putih.  Beberapa komoditi perkebunan yang menjadi unggulan di SBB sudah memiliki akses pasar yang menjanjikan, dan kini mulai dilirik pihak ketiga sebagai mitra.

Dengan melihat dinamika perkembangan KM di sejumlah desa binaan yang begitu besar, maka adanya konsep Sentra Bisnis yang digagas di enam kecamatan, diharapkan mampu menjawab kendala pemasaran dan rantai nilai sebagai solusi mengatasi masalah yang dihadapi petani binaan di SBB. (Dhino)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*